Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Berita Terkait

Kategori Berita

(DetikNews) Kimia Farma Bangun Pabrik Obat di Bandung Rp 978 Miliar

12/12/2018



Jakarta -PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melakukan pengembangan usaha dengan membangun pabrik baru untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan dan produk herbal yang terus meningkat. Pabrik baru ini akan menjadi pabrik kelima yang dimiliki dan dikelola perusahaan.

Pabrik Perusahaan Farmasi pelat merah terbesar di Indonesia ini dibangun di kawasan industri Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan investasi mencapai Rp 978 miliar.

"Pabrik di Banjaran ini kita rancang dengan kapasitas sekitar 3,6 miliar tablet per tahun, atau lebih dari tiga kali lipat dari produksi obat Kimia Farma saat ini yang mencapai 1,1 miliar tablet per tahun. Ini merupakan pabrik untuk merelokasi pabrik yang ada saat ini di tengah kota Bandung," ujar Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/8/2015).

Mengenai pendanaan pembangunan pabrik yang telah dimulai pembangunannya pada Jumat 14 Agustus 2015 lalu ini, Rusdi mengatakan akan memanfaatkan dana hasil penerbitan Medium Term Notes (MTN) senilai Rp 200 miliar yang telah dilakukan perseroan.

"Penerbitan MTN bisa ditambah, sesuai dengan progress pembangunan pabrik yang dilakukan," katanya.

Menurutnya, selain memanfaatkan MTN, Kimia Farma kini mengaincar sumber-sumber pendanaan lain yang lebih murah untuk pengembangan pabriknya. "Berbagai alternatif kita siapkan, mulai dari penerbitan MTN, atau rights issue. Semua kemungkinan akan kita kaji. Kita akan putuskan yang paling menguntungkan perusahaan," katanya.

Dia mengatakan, pembangunan pabrik di atas lahan lima hektar ini dirancang dalam jangka dua tahun. Setelah pabrik ini jadi, total kapasitas produksi obat Kimia Farma akan naik menjadi 4,6 miliar tablet per tahun.

"Itu belum termasuk obat herbal yang juga dibangun di pabrik ini," sambungnya.

Selain membangun pabrik obat, tambah Rusdi, di pabrik baru Kimia Farma di Banjaran ini juga akan untuk memproduksi obat-obat herbal yang bahan bakunya banyak ditemui di dalam negeri.

"Produk herbal yang kita kembangkan mulai dari sintesa, ekstrasi hingga bahan jadi. Mungkin pabrik ini akan menjadi pabrik terbesar untuk produk herbal di Indonesia," katanya.

Dia mengakui, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, tantangan memproduksi obat-obatan chemical yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari impor.

"Karena itu, kita juga tengah menjajaki pembangunan pabrik bahan baku obat chemical yang bisa menekan impor bahan baku untuk produksi obat yang kita lakukan," harapnya.

Rusdi menyebutkan bahwa pihaknya kini tengah menjajaki kerja sama dengan investor Korea Selatan untuk membangun pabrik bahan baku obat-obatan.

"Kita akan bangun di kawasan industri Lippo Cikarang. Kebetulan kita sudah ada lahan di sana. Pembangunannya mungkin baru dilakukan akhir tahun ini," katanya.

"Itu belum termasuk obat herbal yang juga dibangun di pabrik ini," sambungnya.

Selain membangun pabrik obat, tambah Rusdi, di pabrik baru Kimia Farma di Banjaran ini juga akan untuk memproduksi obat-obat herbal yang bahan bakunya banyak ditemui di dalam negeri.

"Produk herbal yang kita kembangkan mulai dari sintesa, ekstrasi hingga bahan jadi. Mungkin pabrik ini akan menjadi pabrik terbesar untuk produk herbal di Indonesia," katanya.

Dia mengakui, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, tantangan memproduksi obat-obatan chemical yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari impor.

"Karena itu, kita juga tengah menjajaki pembangunan pabrik bahan baku obat chemical yang bisa menekan impor bahan baku untuk produksi obat yang kita lakukan," harapnya.

Rusdi menyebutkan bahwa pihaknya kini tengah menjajaki kerja sama dengan investor Korea Selatan untuk membangun pabrik bahan baku obat-obatan.

"Kita akan bangun di kawasan industri Lippo Cikarang. Kebetulan kita sudah ada lahan di sana. Pembangunannya mungkin baru dilakukan akhir tahun ini," katanya.

Sementara untuk produk herbal, Kimia Farma berharap bisa diekspor selain untuk memenunuhi kebutuhan lokal.

"Kita berharap ekspor bisa menyumbangkan pendapatan sekitar lima persen dari total pendapatan Kimia Farma yang mencapai Rp 5 triliun," katanya.

Mengenai pemanfaatan lahan pabrik lama setelah pabrik di Banjaran beroperasi, Rusdi mengatakan pihak konsultan kini tengah melakukan kajian pemanfaatan bekas pabrik Kimia Farma yang di tengah kota Bandung itu.

"Kita punya lahan seluas 7,5 hektar di tengah kota Bandung. Tentunya, kita ingin lahan itu bisa memberikan keuntungan yang besar bagi perseroan ke depan. Saat ini ada konsultan yang tengah menghitung dan mengkaji peruntukan lahan yang cocok dan paling menguntungkan," katanya.

Selain tetap bisa mendapatkan ruang untuk operasional Apotek, PT Kimia Farma juga akan mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan hotel sepanjang masa berjalannya kerja sama.