Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Follow us:   
Kontak kami:    kontak@wikidpr.org
Berita Terkait

Kategori Berita

(Kompas) BEKRAF dan LSF Belum Efektif Bekerja, Program Perfilman Mandek

12/12/2018



Program pemerintah dalam pengembangan perfilman mandek dalam enam bulan terakhir ini karena tiga lembaga penopangnya, yaitu Badan Ekonomi Kreatif, Lembaga Sensor Film, dan Pusat Pengembangan Perfilman, belum bisa berbuat apa-apa. Ketiganya masih terganjal, terutama masalah nomenklatur dan anggaran.

Badan Ekonomi Kreatif (BEK), Lembaga Sensor Film (LSF), serta Pusat Pengembangan Perfilman di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) belum berjalan. Hingga April 2015, ketiga lembaga tersebut belum bekerja nyata karena berkutat dengan urusan keorganisasian, pengisian pengurus, dan anggaran dana yang belum kelar. Padahal, banyak kerja yang harus digarap dan film merupakan salah satu program ekonomi kreatif yang menyentuh masyarakat.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia Jonny Syafrudin menyesalkan LSF yang hingga saat ini masih belum rampung dibahas DPR. Padahal, bioskop tidak bisa menunggu karena saban hari harus memutar film Indonesia dan impor. Proses produksi film terus berjalan dan LSF harus segera efektif bekerja.

"Seharusnya DPR tidak ikut campur dalam kepengurusan LSF karena mulai seleksi anggota hingga terpilih sudah dilakukan tim yang berwenang. DPR hanya mengetahui. Ini kenapa jadi berlarut-larut sehingga urusan film menjadi terpecah-pecah. Janganlah urusan kepengurusan LSF dibawa ke ranah politik," tutur Jonny, Kamis (16/4). Jonny turut menjadi tim penyeleksi anggota LSF periode 2014-2018?.

BEK jadi fasilitator

Pemerhati film Ekky Imanjaya berharap BEK menjadi fasilitator untuk menunjang kemajuan film Indonesia. Badan ini bisa membantu pendanaan produksi, ekshibisi, distribusi, dan festival film. Banyak sekali pekerjaan yang harus? segera ditangani.

"Banyak pembuat film yang mendapat undangan ke luar negeri, misalnya filmnya diputar di festival atau ikut workshop internasional. Mereka harus dibantu, entah dengan uang dari negara atau negara yang mencarikan uang secara transparan," kata mahasiswa S-3 Kajian Film di University of East Anglia, Norwich, Inggris, itu.

Untuk membantu pendanaan produksi, distribusi, dan ekshibisi, BEK bisa mempertemukan pembuat film dengan calon investor. Adapun Pusat Pengembangan Perfilman dituntut mengembangkan pendidikan film dalam beragam aspeknya.

http://print.kompas.com/baca/2015/04/17/Program-Perfilman-Nasional-Mandek